Senin, 29 November 2010

persahabatan

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan
dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan
mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi
persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan
bertumbuh bersama karenanya…

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi
membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkanbesi,
demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan
diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti,
diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak,
namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan
dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan
untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya
ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman,
tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan
dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha
pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita
membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi
mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih
dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan
dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya,
karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati,
namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.
Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun
ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Beberapa hal seringkali menjadi penghancur
persahabatan antara lain :
1. Masalah bisnis UUD (Ujung-Ujungnya Duit)
2. Ketidakterbukaan
3. Kehilangan kepercayaan
4. Perubahan perasaan antar lawan jenis
5. Ketidaksetiaan.
Tetapi penghancur persahabatan ini telah berhasil dipatahkan
oleh sahabat-sahabat yang teruji kesejatian motivasinya.

Renungkan :
**Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri
“Dalam masa kejayaan, teman2 mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman2 kita.”**

Senin, 22 November 2010

Untuk Ibu

SEBENING TITIK EMBUN PAGI, SEBENING HATIMU IBU
SECERAH MENTARI PAGI, SEHANGAT KASIH SAYANGMU IBU
SEMILIR ANGIN SENDU, SELEMBUT UCAPAN IBU
TERAWANG INGATAN MASA KECIL
EPISODE PERJALANAN JADI RINDU PADAMU
ENGKAU PANUTAN KAMI
JIWAMU BAGAI AMAL SEDEKAH
RAGA BAGAI PENGORBANAN HARTA
TAK SEKEJAP KAU PALING KASIHMU
TAK BERGEMING BUAT SAYANG UNTUK KAMI
RINDU BELAIMU DI PEMBARINGAN
KU TUNGGU DO’A SEIRING LANGKAH
SEKEJAP TAK HILANG, SEUCAP KATA DALAM BUAIAN
BILAKAH IBU BERKENAN
KU MUNAJAT PADA TUHAN
SMOGA KAU SEHAT SEPANJANG BADAN

Jumat, 19 November 2010

20 Ciri Kedewasaan Yang Sesungguhnya

Marc & Angel (2007) mengemukakan bahwa kedewasaan seseorang bukanlah terletak pada ukuran usianya, tetapi justru pada sejauhmana tingkat  kematangan emosional yang dimilikinya. Berikut ini pemikirannya tentang ciri-ciri atau karakteristik kedewasaan seseorang yang sesungguhnya  dilihat dari kematangan emosionalnya.
20 Ciri Kedewasaan Yang Sesungguhnya
  1. Tumbuhnya kesadaran bahwa kematangan bukanlah  suatu keadaan tetapi merupakan sebuah proses berkelanjutan dan secara terus menerus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan diri.
  2. Memiliki kemampuan mengelola diri  dari perasaan cemburu dan iri hati.
  3. Memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan mengevaluasi dari sudut pandang orang lain.
  4. Memiliki kemampuan memelihara kesabaran dan fleksibilitas dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Memiliki kemampuan menerima fakta bahwa seseorang tidak selamanya dapat menjadi pemenang dan mau belajar dari berbagai kesalahan dan kekeliruan atas berbagai hasil yang telah dicapai.
  6. Tidak berusaha menganalisis  secara berlebihan atas hasil-hasil negatif yang diperolehnya, tetapi justru dapat memandangnya sebagai hal yang positif  tentang keberadaan dirinya.
  7. Memiliki kemampuan membedakan antara pengambilan keputusan rasional dengan dorongan emosionalnya (emotional impulse).
  8. Memahami bahwa tidak akan ada kecakapan atau kemampuan tanpa adanya  tindakan persiapan.
  9. Memiliki kemampuan mengelola kesabaran dan kemarahan.
  10. Memiliki kemampuan menjaga perasaan orang lain dalam benaknya dan berusaha  membatasi sikap egois.
  11. Memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants).
  12. Memiliki kemampuan menampilkan keyakinan diri tanpa menunjukkan sikap arogan (sombong).
  13. Memiliki kemampuan mengatasi setiap tekanan (pressure) dengan penuh kesabaran.
  14. Berusaha memperoleh kepemilikan  (ownership) dan bertanggungjawab atas setiap tindakan pribadi.
  15. Mengelola ketakutan diri (manages personal fears)
  16. Dapat melihat berbagai “bayangan abu-abu”  diantara ekstrem hitam dan putih dalam setiap situasi.
  17. Memiliki kemampuan menerima umpan balik negatif sebagai alat untuk perbaikan diri.
  18. Memiliki kesadaran akan ketidakamanan  diri dan harga diri.
  19. Memiliki kemampuan memisahkan perasaan cinta dengan berahi  sesaat.
  20. Memahami bahwa komunikasi terbuka adalah kunci kemajuan.
Sumber dan terjemahan bebas dari:
http://www.marcandangel.com/2007/08/17/what-is-adulthood-20-defining-characteristics-of-a-true-adult/

20 Ciri – Ciri Orang yang Inovatif

Mitchell Ditkoff, Direktur dari Idea Champions, mengetengahkan tentang kualitas dari seorang inovator, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

20 Ciri – Ciri  Orang yang Inovatif
  1. Challenges status quo; tidak merasa cepat puas dengan keadaan yang ada dan selalu mempertanyakan otoritas dan rutinitas serta mengkonfrontasikan asumsi-asumsi yang ada.
  2. Curious; senantiasa mengeksplorasi lingkungannya dan menginvestigasi kemungkinan-kemungkinan baru, memiliki rasa kekaguman (sense of awe)
  3. Self-motivated; tanggap terhadap kebutuhan dari dalam (inner needs) senantiasa secara proaktif memprakarsai proyek-proyek baru, menghargai setiap usaha.
  4. Visionary; memiliki imaginasi yang tinggi dan memiliki pandangan yang jauh ke depan.
  5. Entertains the fantastic; memunculkan ide-ide “gila”, memandang sesuatu yang tidak mungkin menjadi sebuah kemungkinan, memimpikan dan menghayalkan sesuatu yang besar-besar.
  6. Takes risks; melampaui wilayah yang dianggap menyenangkan, berani mencoba dan menanggung kegagalan.
  7. Peripatetic; merubah lingkungan kerja sesuai yang dibutuhkan, senang melakukan perjalanan (travelling) untuk memperoleh inspirasi atau pemikiran segar.
  8. Playful/humorous; memliki ketertarikan terhadap hal-hal yang aneh dan mengagumkan, berani tampil beda, bertindak nekad, serta mudah dan sering tertawa layaknya seorang anak kecil.
  9. Self-accepting; dapat mempertahankan ide-idenya dan menganggap “kesempurnaan sebagai musuh kebaikan”, tidak terikat dengan apa-apa yang diipandang baik menurut orang lain.
  10. Flexible/adaptive –terbuka bagi setiap perubahan, mampu melakukan penyesuaian terhadap rencana-rencana yang telah dibuat, menyajikan berbagai solusi dan gagasan
  11. Makes new connections; mampu melihat hubungan-hubungan diantara unsur-unsur yang terputus, mensintesakan dan mengkombinasikannya.
  12. Reflective, menginkubasi setiap masalah dan tantangan, mencari dan merenungkan berbagai pertimbangan dalam mengambil keputusan.
  13. Recognizes (and re-cognizes) patterns; perseptif terhadap sesuatu dan dapat membedakannnya, dapat melihat kecenderungan dan prinsip serta mampu mengorganisasikannnya, dapat melihat ”the Big Picture.”
  14. Tolerates ambiguity, merasa nyaman dalam situasi kacau (chaos), dapat menyajikan situasi paradoks, tidak tergesa-gesa membenarkan terhadap suatu ide yang muncul.
  15. Committed to learning; berusaha mencari pengetahuan secara terus menerus, mensintesakan segala in put, menyeimbangkan setiap informasi yang terkumpul dan menyelaraskan setiap tindakan.
  16. Balances intuition and analysis memilih dan memilah diantara pemikiran divergen dan pemikiran konvergen, memiliki intuisi tertentu sebelum melakukan analisis, meyakini apa yang sudah dianalisis dan menggunakannya secara hati-hati dengan menggunakan akal.
  17. Situationally collaborative; berusaha menyeimbangkan pemikiran dari setiap individu, membuka pelatihan dan mencari dukungan organisasi.
  18. Formally articulate; mengkomunikasikan setiap gagasan secara efektif, menterjemahkan konsep abstrak ke dalam bahasa penuh arti, menciptakan prototype atau model yang dianggap paling mudah
  19. Resilient; merefleksi hal-hal dianggap mengecewakan atau yang tidak dinginkan, belajar dengan cepat dari umpan balik, berkemauan untuk mencoba dan terus mencoba lagi
  20. Persevering; bekerja keras dan tekun, memperjuangkan gagasan-gagasan baru dengan gigih, memiliki komitmen terhadap hasil-hasil yang telah digariskan.
Sumber: http://thinksmart.com/articles/qualities.html
Refleksi buat Anda:
Berapa ciri-ciri di atas yang sudah Anda miliki?
=========

Jumat, 12 November 2010

Zona motivasi ke Zona Inspirasi

Suatu subuh-subuh buta, pernah saya nulis tentang “Secret” karangannya Madam Rhonda, nggak pake mikir-mikir lagi saya posting, aha sampai kemudian datanglah tulisan balasan ke email saya dari “suhu” saya yang juga membahas tentang itu dari sudut yang berbeda, ibaratnya sama-sama ngeliet sapi tapi dia ngeliet sapinya, saya baru ngeliet ekornya doang, itu juga pake sedotan, halahhhhh….. malu deh akyu….

Intinya adalah, dimana letak kekuasaan Tuhan kalo semua diserahkan ke alam semesta atau pada diri sendiri, padahal semuanya adalah kekuasaan Allah untuk mengabulkan segala hal (itu intinya lho, bahasanya sih jangan tanya deh, jauh…..;)….
Langsung deh, bell in my head ring, ding….dong…..
Saya nggak pernah bahas itu lagi sampai pada pelatihan seft hari kedua, dimana ada pembahasan mengenai zona motivasi dan zona inspirasi, ajarannya adalah kita harus bergerak dari zona motivasi ke zona inspirasi, karena zona motivasi biasanya efeknya hanya sebentar, meminjam istilah dosen saya, bagaikan spritus, gampang menguap…..
Saya juga sempat sedikit bertanya bahasan beliau mengenai pandangan tersebut, and his answer makes my head rings the bell again ding dong ding….
Intinya he don’t buy that (that refers to the statement, not the book, red. hehehehehe)
ada beberapa aliran yang memang memakainya, tetapi alangkah baiknya jika kita ambil yang baik dan benarnya menurut kita, dan tinggalkan yang kita belum percaya dan aplikasikan dengan kepercayaan kita sendiri.
Sekarang saya lebih tertarik dengan zona motivasi dan inspirasi itu sendiri.
Perbedaan antara kedua zona itu berasal dari rootnya.
Center of life pada zona motivasi berasal dari diri sendiri, sementara pada zona inspirasi pusat hidupnya ada pada Tuhan.
Kemudian zona M biasanya berasaldari Desire dan didominasi oleh ego, sementara zona I, berasal dari kasih yang tulus dengan didominasi oleh hati nurani.
Dorongan motivasi adalah keinginan yang kuat, dengan mind state focus on goals, appealed by rewards, sementara zona I didorong oleh panggilan cinta, dengan kondisi pikiran berpusat pada Tuhan dan akan bertambah rajin jika mendekat pada-Nya.
Yang menarik juga dalah jargon yang sering dipakai untuk motivasi adalah Never give up, no pain no gain atau keep on fighting, sementara pada zona inspirasi jargon yang biasa digunakan adalah jangan menjauh dari Tuahn, non God Non Sense, dan iklhlas dan pasrah…..
Dan lebih banyak lagi detil-detil perbedaannya yang membuat saya berpikir, apakah selama ini saya terlalu terjebak dalam zona motivasi sehingga yang saya dapatkan adalah kondisi hati yang cemas, takut, moody, bukannya kondisi hati yang tenang, damai, dan kepasrahan yang indah.  Juga pandangan hidup yang memandang hidup penuh masalah, terkadang membosankan dan tidak ada harapan, bukannya memandang hidup itu indah, berkah dari Yang Kuasa dan layak dinikmati dan disyukuri, terkadang hidup menantang kita untuk menunjukkan sisi terbaik untuk dunia.
Alter all, pelajaran yang saya dapatkan adalah life is just LoGOS (LoGOS is loving God, blessing other and continuous self improvement) the rest is just retail…
Lets move to Inspirational Zone.